Skip to main content

Apa itu Krisis Identitas yang Sering Dialami Ibu Pascaresign?

Aku sekarang siapa ya? Pertanyaan sederhana ini ternyata bisa terasa berat ketika muncul di kepala seorang ibu yang baru saja resign dari pekerjaannya. Dulu, ada jabatan yang bisa disebut saat berkenalan, ada pencapaian kerja yang bisa dibanggakan, ada rutinitas jelas yang membentuk siapa diri kita sehari-hari. Begitu semua itu hilang, ibu tiba-tiba merasa kehilangan arah.

Apa itu Krisis Identitas yang Sering Dialami Ibu Pascaresign

Fenomena ini sebenarnya cukup umum terjadi, yang disebut juga dengan krisis identitas. Sayangnya, tak jarang ibu cenderung memendam perasaan ini sendiri karena merasa aneh atau bersalah mengeluhkan sesuatu yang seharusnya disyukuri, yaitu bisa fokus mengurus anak di rumah.

Baca juga: Cara Menemukan Circle Pertemanan Baru Pascaresign

Padahal, mengenali dan memahami krisis identitas ini penting banget, biar kita bisa mencari cara yang tepat untuk melaluinya. Yuk, kita bahas lebih dalam soal krisis identitas yang sering dialami ibu pascaresign ini.

Apa Itu Krisis Identitas dan Kenapa Bisa Terjadi?

Sederhananya, krisis identitas dapat diartikan sebagai kondisi ketika seseorang merasa kehilangan pemahaman yang jelas tentang siapa dirinya, apa perannya, dan apa nilai dirinya dalam lingkungan sosial. Kondisi ini biasanya muncul saat terjadi perubahan besar dalam hidup, seperti pindah kota, perceraian, pensiun, atau dalam konteks ini: resign dari pekerjaan.

Selama bertahun-tahun bekerja, identitas seseorang sering kali terbentuk dan melekat erat dengan peran profesionalnya. Ada gelar, ada jabatan, ada pencapaian yang jadi tolok ukur nyata dari value diri. Setelah resign, semua penanda identitas ini seolah hilang begitu saja, digantikan satu label besar yang terasa kurang spesifik, yaitu ibu rumah tangga.

Padahal, peran sebagai ibu rumah tangga itu sendiri sangat kompleks dan penuh tanggung jawab. Namun, karena tidak terukur dengan standar yang biasa dipakai dalam dunia kerja, seperti gaji atau promosi jabatan, ibu kesulitan menemukan kembali rasa percaya diri dan kejelasan identitas dirinya.

Perasaan "Kurang Berharga" yang Sering Muncul

Salah satu gejala paling umum dari krisis identitas pascaresign adalah munculnya perasaan kurang berharga. Muncul karena membandingkan kondisi diri sekarang dengan kondisi saat masih bekerja, di mana ada pengakuan jelas dari atasan atau rekan kerja atas hasil kerja yang dilakukan.

Di rumah, pengakuan semacam ini jauh lebih jarang didapatkan. Pekerjaan rumah tangga sering kali dianggap remeh atau dianggap kewajiban biasa, padahal nyatanya membutuhkan energi, waktu, dan keterampilan yang tidak sedikit. Minimnya apresiasi ini akhirnya memicu perasaan kurang berharga, meski sebenarnya kontribusi yang diberikan sangat besar bagi keluarga.

Penting untuk disadari, rasa kurang berharga ini bukan cerminan kenyataan yang sebenarnya, melainkan efek dari standar penilaian yang keliru. Value diri seseorang tidak seharusnya diukur hanya dari pengakuan eksternal atau pencapaian yang terlihat secara materiil semata.

Kehilangan Rasa Percaya Diri dalam Berinteraksi Sosial

Krisis identitas sering memengaruhi rasa percaya diri dalam berinteraksi sosial. Banyak ibu yang merasa canggung atau minder ketika harus memperkenalkan diri di lingkungan baru, terutama saat ditanya soal pekerjaan. Jawaban "saya ibu rumah tangga" kadang terasa kurang memuaskan dibanding menyebutkan jabatan atau nama perusahaan tempat bekerja dulu.

Rasa minder ini semakin diperparah kalau lingkungan sosialnya kurang suportif, misalnya ada komentar meremehkan seperti "enak ya di rumah aja". Komentar semacam ini, meski terkesan sepele, bisa berdampak besar terhadap kepercayaan diri ibu yang sedang berjuang menemukan kembali identitas dirinya.

Padahal. respons dan komentar orang lain lebih mencerminkan cara pandang mereka sendiri, bukan cerminan nilai sebenarnya dari peran ibu yang sedang dijalani. Belajar untuk tidak terlalu terpengaruh oleh validasi eksternal adalah salah satu kunci penting dalam melewati krisis identitas ini.

Rasa Rindu pada Diri yang Dulu

Krisis identitas juga sering diwarnai dengan rasa rindu terhadap versi diri sebelumnya, yaitu saat masih aktif bekerja. Ada rasa kangen akan rutinitas kerja, momen berdiskusi dengan rekan kerja, pencapaian setelah menyelesaikan proyek besar, atau sekadar rindu pada rutinitas berpakaian rapi dan keluar rumah setiap hari.

Perasaan ini wajar dan tidak perlu dianggap sebagai tanda bahwa keputusan resign adalah keputusan yang salah. Merindukan sesuatu dari masa lalu tidak berarti menyesali keputusan yang sudah diambil di masa sekarang. Dua perasaan ini bisa berjalan beriringan, dan pastikan memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan kerinduan tersebut tanpa harus merasa bersalah.

Cara Menghadapi dan Melalui Krisis Identitas

Meski krisis identitas terasa berat, ada beberapa cara yang bisa diterapkan agar dapat melaluinya dengan lebih baik. Pertama, penting untuk mengakui dan menerima setiap perasaan yang muncul, tanpa buru-buru menghakimi diri sendiri sebagai "tidak bersyukur" atau "berlebihan".

Kedua, coba mulai membangun ulang identitas diri secara perlahan, tidak harus melalui pekerjaan formal. Eksplorasi hobi, belajar hal baru, atau terlibat dalam komunitas tertentu bisa membantu menemukan kembali identitas diri di luar peran sebagai ibu rumah tangga.

Ketiga, cari dukungan dari orang-orang terdekat yang bisa memahami kondisi ini, entah pasangan, keluarga, atau sesama ibu yang mengalami hal serupa. Berbagi cerita dan perasaan dengan orang yang tepat bisa sangat membantu meringankan beban emosional yang dirasakan.

Terakhir, kalau perasaan krisis identitas ini terasa terlalu berat dan berkepanjangan sampai mengganggu keseharian, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog. Ini bukan tanda kelemahan, justru bentuk kepedulian terhadap diri sendiri untuk mendapatkan dukungan yang lebih tepat.

Membangun Ulang Definisi Diri yang Lebih Utuh

Pada akhirnya, semua adalah proses untuk membangun ulang definisi diri yang lebih utuh, tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu peran tertentu, entah itu sebagai karyawan atau ibu rumah tangga semata. Identitas diri yang benar biasanya terbentuk dari berbagai aspek, mulai dari peran sebagai ibu, sebagai individu dengan minat dan passion pribadi, sebagai bagian dari komunitas sosial, dan banyak aspek lainnya.

Proses ini memang butuh waktu. Namun, dengan kesabaran dan penerimaan diri, perlahan kamu bisa menemukan kembali rasa percaya diri dan kejelasan identitas tidak mudah goyah hanya karena perubahan peran atau status pekerjaan.

Baca juga: Cara Membuat To-do List yang Cocok untuk Ibu Rumah Tangga

Krisis identitas pascaresign adalah bagian dari proses adaptasi yang manusiawi. Kalau kamu sedang mengalami hal ini, izinkan dirimu untuk merasakannya tanpa menghakimi diri terlalu keras. Perlahan kamu akan menemukan kembali versi dirimu yang baru dan tetap berharga.

Semoga bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

5 Langkah Membangun Personal Branding Ibu Rumah Tangga

Siapa bilang personal branding cuma buat karyawan kantoran, artis, atau CEO startup? Ibu rumah tangga juga punya hak yang sama untuk dikenal, dihargai, dan bahkan "dijual" keahliannya ke dunia luar. Ya, kamu nggak salah baca. Meski keseharian dihabiskan di rumah, mengurus anak, masak, sampai beres-beres rumah, bukan berarti kamu nggak punya identitas dan value yang layak ditonjolkan. Sumber gambar: Magnific @rawpixel.com

Kenapa Ibu Tetap Harus Produktif setelah Resign?

Momen resign dari kantor demi fokus mengurus anak, sering kali jadi keputusan besar yang penuh pertimbangan. Ada rasa lega bila akhirnya bisa full time menemani si kecil tumbuh, tapi nggak jarang juga muncul rasa kehilangan. Kehilangan rutinitas, kehilangan circle pertemanan kantor, bahkan kehilangan "identitas" yang selama ini melekat sebagai seorang profesional.

Produktivitas dari Rumah yang Cocok untuk Ibu Pasca Resign

Setelah resign dan memutuskan fokus di rumah, banyak ibu yang sebenarnya masih punya energi dan keinginan untuk tetap berkarya. Masalahnya, waktu yang tersedia terbatas, tenaga juga sudah banyak terkuras untuk urusan anak dan rumah tangga. Akhirnya, muncul pertanyaan klasik, "produktif itu enaknya ngapain ya, kalau kondisinya kayak gini?"