"Kenapa resign?" adalah pertanyaan yang nyaris selalu datang, baik dari kantor, dari keluarga, hingga dari diri sendiri. Jawabannya tentu bermacam-macam, tapi dua alasan yang paling sering muncul di kalangan ibu bekerja adalah karena ingin fokus mengurus anak, atau karena sudah kelelahan alias burnout dengan pekerjaan.
Dua alasan ini tampak berbeda. Yang satu terdengar penuh cinta dan pengorbanan, yang satu lagi terdengar seperti "menyerah" karena tidak kuat lagi. Padahal, kalau ditelisik lebih dalam, keduanya punya dinamika yang cukup kompleks dan mungkin saja saling bersinggungan satu sama lain.
Baca juga: Apa yang Paling Berat Dijalani Setelah Ibu Resign?
Biar lebih jelas, mari kita bahas apa sebenarnya perbedaan antara resign karena anak dan resign karena burnout, sekaligus bagaimana dua alasan ini memengaruhi proses adaptasi setelahnya.
Resign karena Anak, Keputusan yang Penuh Pertimbangan
Resign karena anak biasanya dilatarbelakangi keinginan untuk lebih hadir dalam tumbuh kembang buah hati. Misal anak yang masih kecil dan butuh perhatian penuh, kesulitan mencari pengasuh yang dipercaya, atau keinginan pribadi yang enggan melewatkan momen-momen penting pertumbuhan anak.
Keputusan semacam ini biasanya diambil dengan pertimbangan matang dan melibatkan diskusi panjang bersama pasangan. Ada perhitungan soal keuangan, ada rencana soal pembagian tugas rumah tangga nantinya, dan kemungkinan sudah dipikirkan sejak jauh-jauh hari sebelum benar-benar resign.
Meski begitu, bukan berarti resign karena anak selalu bebas dari rasa berat hati. Banyak ibu yang tetap merasakan dilema besar: di satu sisi ingin fokus pada anak, di sisi lain merasa sayang meninggalkan karier yang sudah dibangun bertahun-tahun. Rasa campur aduk ini wajar banget dan tidak perlu disangkal.
Resign karena Burnout, Sinyal Tubuh dan Pikiran yang Sudah Lelah
Berbeda dengan resign karena anak, resign karena burnout biasanya dilatarbelakangi oleh kondisi yang jauh lebih mendesak. Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat tekanan kerja berkepanjangan, yang sering ditandai dengan rasa jenuh ekstrem, kehilangan motivasi, sampai gejala fisik seperti sulit tidur atau gampang sakit.
Kalau resign karena anak biasanya direncanakan jauh-jauh hari, resign karena burnout sering kali datang lebih mendadak sebagai respons untuk "menyelamatkan diri" dari kondisi yang sudah tidak sehat. Ada rasa lega besar setelah resign, tapi biasanya juga dibarengi rasa bersalah atau bingung, karena keputusan ini diambil tanpa persiapan matang seperti halnya resign karena anak.
Penting diingat, burnout bukan tanda kelemahan. Ini merupakan sinyal serius dari tubuh dan pikiran yang butuh istirahat. Kalau dibiarkan terus-menerus tanpa ditangani, burnout bisa berkembang jadi masalah kesehatan mental yang lebih serius, seperti kecemasan berlebih atau depresi.
Ketika Dua Alasan Ini Saling Bersinggungan
Dalam banyak kasus, resign karena anak dan resign karena burnout tidak selalu berdiri sendiri. Seorang ibu resign dengan alasan utama "demi anak," padahal di baliknya juga ada rasa lelah luar biasa karena harus menyeimbangkan tuntutan kerja dan tuntutan rumah tangga sekaligus.
Kondisi ini biasa disebut sebagai "beban ganda", di mana ibu bekerja dituntut untuk tetap maksimal di kantor, sekaligus tetap menjalankan peran penuh sebagai ibu di rumah. Kalau berlangsung lama, bisa memicu kelelahan yang luar biasa, sampai akhirnya resign terasa jadi satu-satunya jalan keluar.
Jadi, kalau kamu merasa alasan resignmu demi anak, tapi sebenarnya juga dilatarbelakangi rasa lelah yang sudah menumpuk lama, itu wajar banget. Tidak perlu memaksakan diri memilih satu alasan yang paling benar," karena kenyataannya, keputusan besar semacam ini jarang lahir dari satu sebab tunggal.
Perbedaan Proses Adaptasi Setelah Resign
Meski sama-sama resign, proses adaptasi yang dijalani bisa berbeda tergantung alasan utamanya. Ibu yang resign karena anak dengan persiapan matang, biasanya sudah punya gambaran jelas soal rutinitas baru yang akan dijalani, karena semuanya sudah direncanakan sejak awal.
Sementara ibu yang resign karena burnout, sering kali butuh waktu lebih panjang untuk benar-benar pulih sebelum bisa merasa produktif kembali. Fase awal setelah resign karena burnout biasanya diisi dengan kebutuhan istirahat total, baik secara fisik maupun mental, sebelum akhirnya siap memikirkan langkah selanjutnya.
Kalau kamu resign karena burnout, penting banget untuk tidak buru-buru menuntut diri produktif dalam waktu singkat. Beri diri waktu untuk benar-benar pulih dulu. Tidak apa kalau di bulan-bulan pertama cuma fokus istirahat dan menyembuhkan diri, tanpa merasa harus langsung punya rencana besar setelahnya.
Cara Mengenali Kondisi Diri Sendiri Sebelum Mengambil Keputusan
Buat kamu yang saat ini sedang mempertimbangkan resign, penting untuk jujur mengenali kondisi diri sendiri terlebih dahulu. Apakah keinginan resign ini murni karena ingin lebih hadir untuk anak, ataukah karena sudah merasa sangat kelelahan dengan tuntutan kerja yang ada?
Tidak apa-apa kalau jawabannya campur aduk atau bahkan kamu sendiri belum yakin sepenuhnya. Coba luangkan waktu merenung dan membicarakannya dengan orang terdekat yang bisa dipercaya. Kalau memungkinkan, coba juga cek kondisi kesehatan mental melalui konsultasi psikolog, untuk memastikan apakah kondisi yang dialami memang murni kelelahan biasa,atau sudah mengarah ke burnout yang lebih serius.
Memahami motif sebenarnya di balik keputusan resign ini penting, karena akan memengaruhi bagaimana kamu menjalani proses adaptasi setelahnya. Dengan memahami kondisi diri secara jujur, kamu bisa menyiapkan strategi yang lebih tepat untuk masa transisi yang akan dijalani.
Tidak Ada Alasan yang Lebih "Sah" dari yang Lain
Satu hal yang penting untuk diingat, tidak ada alasan resign yang lebih mulia atau lebih sah dibanding yang lain. Baik resign karena anak maupun karena burnout, keduanya adalah keputusan valid yang layak dihormati tanpa perlu dibanding-bandingkan mana yang lebih berat atau lebih layak.
Jangan biarkan komentar orang lain membuatmu merasa harus membenarkan keputusan resign dengan alasan tertentu saja. Entah kamu resign murni demi anak, murni karena burnout, atau kombinasi keduanya, semua itu adalah keputusan personal yang berhak diambil.
Baca juga: Ini yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Ibu Memutuskan Resign
Yang terpenting adalah bagaimana bisa jujur mengenali kondisi diri sendiri dan menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menjalani fase baru setelah resign. Kalau kamu sedang berada di persimpangan ini, izinkan dirimu merasakan semua emosi yang muncul, tanpa perlu buru-buru mencari pembenaran. Percayalah, keputusan yang diambil dengan kejujuran terhadap diri sendiri akan lebih mudah dijalani, meski prosesnya penuh tantangan sekalipun.
Semoga bermanfaat.

Comments
Post a Comment